Subscribe

geography network feed RSS Feed

Readers

geography network readers

Showing posts with label Student Article. Show all posts
Showing posts with label Student Article. Show all posts

Saturday, October 31, 2009

pergerakan lempengan bumi kita

sekitar tahun 1960 para ahli geologi mulai menyadari bahwa lempeng bumi itu tidak hanya mengambang. lempeng bumi kita bergerak naik dan turun, mereka juga bergerak maju. pada awalnya benua dinamakan plates (lempeng) karena, melihat arah pergerakan benua-benua tersebut, para geologis menemukan bahwa kerak dan mantel bumi dibagi menjadi beberapa lempeng bumi, masing-masing memiliki pergerakannya sendiri-sendiri. beberapa lempeng tektonik ini (lempeng pasifik, misalnya) berisi hampir seluruh kerak samudera. yang lainnya seperti lempeng amerika utara dan eropa, terbentuk karena kerak benua. batas lempeng biasanya terletak di tengah samudera, tetapi di beberapa tempat batas lempeng ada di dasar laut atau daratan yang luas. california barat, di mana patahan gempa bumi San Andreas bertanda, menjadi batas antara lempeng pasifik dan lempeng amerika utara.


berikut adalah gambar pergerakan lempeng dari masa ke masa.



PERMIAN PERIOD



selama Permian Period sekitar 270 juta tahun yang lalu, permukaan benua secara bertahap bergabung dibantu dengan pergerakan tektonik menjadi sebuah benua raksasa, Pangaea. pangaea berisi sekitar 95% daratan di seluruh dunia ini dan dikelilingi oleh samudera yang sangat besar, Panthalassa.



TRIASSIC PERIOD



selama Triassic Period, yang dimulai sekitar 240 juta tahun yang lalu, Pangaea mulai terbagi-bagi dan secara bertahap mulai terbagi menjadi dua benua raksasa: Gondwanaland dan Laurasia.



JURASSIC PERIOD




selama Jurassic Period, pembentukan Pangaea menjadi lebih terarah. laut Tethys terbuka di antara Laurasia di utara dan Gondwanaland di selatan. di Gondwanaland, amerika utara masih bersatu dengan afrika dan antartika.



EARLY CRETACEOUS PERIOD



di Early Cretaceous era, sekitar 140 juta tahun yang lalu, Gondwana dan benua bagian utara di Laurasia sudah terpisah oleh laut Tethys. benua bagian utara yang ditunjukkan mulai terbentuk selama Cretaceous Period, ketika Greenland terpisah dari eropa dan samudera atlantik terbuka.



LATEST CRETACEOUS PERIOD



sekitar 95 juta tahun yang lalu, India terpisah dari Afrika bergerak ke arah timur laut sebelum menyatu dengan asia. eropa berpisah dengan amerika utara dan pembelahan terakhir yaitu antara amerika selatan dan afrika, samudera baru, atlantik selatan, terbentuk. australia dan antartika masih menyatu.



THE WORLD TODAY




ini adalah dunia kita sekarang, tapi, bentuk demikian ini tidaklah permanen. pergerakan lempeng ini akan terus dan terus berlanjut, setiap benua akan bergerak sekitar beberapa senti setiap tahunnya. samudera atlantik pada kenyataannya terus melebar sedangkan samudera pasifik mengecil.



FUTURE PROJECTIONS



benua akan terus bergerak setiap tahunnya. 60 juta tahun yang akan datang, samudera atlantik akan secara bertahap melebar, dan amerika serta afrika akan menjadi sangat-sangat jauh. samudera pasifik menjadi sangat kecil, dan laut mediterania akan benar-benar menghilang dan afrika, asia dan eropa menjadi satu daratan raksasa.



oleh: yesika kristina (xi ips 2 / 04)
please visit my weblog too :D thanks!

Sunday, October 25, 2009

Exoplanet Baru Seukuran Bumi




Exoplanet

Sebuah planet kembali ditemukan. Yang mengejutkan, planet ini memiliki massa hanya 2 kali massa Bumi. Sangat kecil serta menjadi sebuah terobosan baru.

Sudah lama, para ilmuwan mencari planet yang berukuran Bumi dan selama ini yang ditemukan adalah Super Bumi yang massanya lebih besar dari 5 kali massa Bumi. Belum pernah ditemukan sebuah planet yang begitu kecil hampir sama dengan Bumi. Dan inilah saatnya.

Michel Mayor yang juga penemu planet extrasolar pertama di Bintang serupa Matahari atau yang kita kenal sebagai sistem 51 Pegasi mengumumkan penemuannya atas planet berukuran Bumi tersebut pada pertemuan JENAM. Planet tersebut merupakan planet keempat di sistem Bintang Gliese 581. Sistem ini jugalah yang menghebohkan dunia dengan planetnya yakni Gliese 581c yang diperkirakan memiliki air. Penemuan Gliese 581d merupakan hasil pengamatan selama lebih dari 4 tahun meggunakan spektograf HARPS yang dipasang pada teleskop 3.6 meter milik ESO di La Silla, Chili. Tak hanya menemukan planet Gliese 581e, tim ini juga menentukan kembali orbit dari Gliese 581d yang ditemukan pada tahun 2007.

Exoplanet

Hal menarik lainnya adalah dideteksinya planet batuan yang berada di area habitasi bintang. Area di sekitar bintang yang memungkinkan keberadaan air dalam bentuk cair ada di permukaan. Nah ini dia!. Area ini sangat penting karena jika planet berada di sini, dan ternyata memang memiliki air, maka kemungkinan tumbuhnya kehidupan pun cukup besar. Inilah terobosan baru dalam dunia extrasolar planet. Terobosan yang dicari dan dinantikan baik astronom maupun masyarakat dunia.

Planet Gliese 581 e mengorbit bintang induk yang berjarak 20,5 tahun cahaya, hanya dalam 3,15 hari. Dengan massa yang sangat kecil yakni 1,9 massa Bumi, planet ini menjadi planet yang sangat tidak masif yang pernah dideteksi. Selain itu ia juga merupakan planet batuan pada sistem Bintang Gliese 581 yang berada di rasi Libra si rasi timbangan.

Berada sangat dekat dengan bintang induknya, planet Gliese 581 e ini tidak berada dalam area habitasi bintang atau kadang disebut sebagai zona layak huni. Tapi ada planet lain di sistem ini yang berada di daerah habitasi bintang.

Dari hasil pengamatan sebelumnya dengan HARPS spektograf di Observatorium La Silla, sistem ini diketahui memiliki 3 planet yakni 1 planet berukuran Neptunus dan dua buah planet super-Bumi. Penemuan planet Gliese 581 e menambah jumlah planet di sistem ini menjadi 4 dengan massa (dalam massa Bumi) 1,9 (planet e) , 16 (planet b), 5 (planet c) dan 7 (planet d). Planet terluar yakni planet Gliese 581 d mengorbit bintangnya dalam 66,8 hari dan diperkirakan cukup masif untuk bisa terdiri hanya dari batuan. Namun demikian, Michel Mayor dan timnya meyakini bahwa ini adalah planet es yang bermigrasi mendekati bintang.

Hasil pengamatan terbaru juga menunjukkan keberadaan planet d di zona habitasi, dimana ada kemungkinan keberadaan air di permukaan planet tersebut. Tak hanya itu, Stephane Udry salah satu anggota tim penemu mengatakan, “bisa jadi planet d diselimuti oleh lautan yang luas dan dalam, atau bisa kita katakan ada kemungkinan planet d adalah kandidat “dunia air” dalam dunia exoplanet”.

Tarikan lemah si exoplanet saat mengorbit bintang induknya menyebabkan terjadinya goyangan kecil pada gerak bintang, hanya sekitar 7 km/jam. Peristiwa tersebut bisa diamati dari Bumi dengan menggunakan teknologi yang tepat.

Bintang Gliese 581 merupakan bintang jatai merah bermassa rendah yang berpotensial sebagai tempat pencarian exoplanet bermassa rendah di zona habitasi. Bintang dingin seperti ini relatif lemah kecerlangannya, dan zona habitasinya juga berada sangat dekat dengan Bintang. Dengan demikian jika ada planet berada di area habitasinya, maka goyangan gravitasi yang dihasilkan akan lebih kuat, dan goyangan pada bintang akan lebih mudah teramati.

Tapi walau mudah diamati, tetap saja untuk mendeteksi sinyal sekecil ini masih menjadi tantangan. Penemuan planet e dan penentuan orbit planet d dimungkinkan karena stabilitas dan tingkat presisi HARPS yang sangat tinggi.

Bagi Michel Mayor, penemuan ini begitu menakjubkan. Bagaimana tidak, 14 tahun lalu ia menemukan untuk pertama kalinya sebuah planet yang mengitari bintang serupa Matahari di bintang 51 Pegasi. Dan sekarang ia menemukan sebuah planet yang massanya 80 kali lebih kecil dari planet 51 Pegasi b. Menakjubkan bukan perkembangan yang terjadi dalam 14 tahun? Jika dulu yang bisa ditemukan hanya planet raksasa, sekarang planet seukuran Bumi tak lagi jadi masalah.

Para astronom pun semakin yakin bahwa mereka bisa melakukan yang lebih baik lagi. Penemuan planet serupa Bumi di tengah area habitasi di bintang katai merah tinggal menunggu waktu untuk disingkapkan. Dan… perburuan planet pun terus berlanjut…

Menurut saya, ilmu pengetahuan sekarang semakin berkembang. Sudah banyak benda-benda angkasa yang ditemukan. Bahkan sekarang telah ditemukan planet yang seukuran bumi. Itu suatu prestasi yang luar biasa.
Sumber : ESO

Agnesia Brilianti Kananlua
XG/2

Tuesday, September 15, 2009

GERHANA MATAHARI


GERHANA MATAHARI


Memasuki tahun astronomi 2009, masyarakat Indonesia disuguhi fenomena langka berupa gerhana matahari cincin. Setelah sembilan tahun lalu, fenomena itu muncul lagi pada 26 Januari 2009. Indonesia adalah satu-satunya wilayah daratan yang dapat mengamati peristiwa alam ini.

Gerhana matahari cincin (GMC) terjadi karena piringan bulan tidak menutup sepenuhnya piringan matahari, hanya sekitar 92 persen. Karena itu, saat puncak gerhana, matahari terlihat seperti cincin yang memancarkan sinar di langit. Bagian tengah matahari tertutup bulan sehingga tampak gelap.

Penampakan seperti cincin bersinar inilah yang membedakan GMC dengan gerhana matahari total (GMT). Saat puncak GMT, seluruh piringan matahari tertutupi secara sempurna oleh piringan bulan. Akibatnya, suasana terang akan berubah gelap untuk beberapa saat.
Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki waktu puncak GMC paling lama adalah Pringsewu, Lampung, dengan lama fase cincin 6 menit 12 detik. Di Pringsewu, gerhana dimulai pukul 13.19 WIB hingga pukul 17.52. Puncak gerhana terjadi pukul 16.41.

Wilayah di muka bumi yang dapat mengamati GMC ini adalah daerah yang dilewati antumbra atau perpanjangan bayangan inti bulan. Pada gerhana kali ini, beberapa kota di Indonesia yang dapat menyaksikan GMC adalah Tanjung Karang (Lampung), Serang (Banten), Tanjung Pandan (Belitung), Ketapang (Kalbar), Puruk Cahu (Kalteng), dan Samarinda (Kaltim).

Proses gerhana


Gerhana matahari merupakan peristiwa jatuhnya bayang- bayang bulan ke permukaan bumi akibat terhalangnya sinar matahari menuju bumi oleh bulan. Kondisi ini terjadi jika matahari-bulan-bumi berada dalam satu garis lurus serta bulan terletak di sekitar titik potong (titik noda) antara bidang edar bulan mengelilingi bumi dan bidang edar bumi mengelilingi matahari.
Penampakan gerhana yang berubah-ubah antara GMC atau GMT terjadi akibat perubahan ukuran piringan bulan dan matahari dari bumi. Perubahan ukuran piringan bulan dan matahari itu terjadi akibat lintasan bumi mengelilingi matahari dan lintasan bulan mengelilingi bumi yang sama-sama berbentuk elips. Lintasan elips pulalah yang membuat jarak matahari-bumi dan jarak bulan-bumi berubah secara periodik.

Pada saat jarak matahari-bumi (aphelion) mencapai maksimum sebesar 152,1 juta kilometer, radius piringan matahari berukuran 944 detik busur (1 detik busur = 1/3.600 derajat). Adapun pada jarak terdekat bumi-matahari (perihelion) sebesar 147,1 juta km, radius piringan matahari mencapai 976 detik busur.

Sementara itu, jarak bulan- bumi pada titik terjauhnya (apogee) pada jarak 405.500 km memiliki radius piringan bulan sebesar 882 detik busur. Adapun pada titik terdekatnya antara bulan-bumi sebesar 363.300 km, radius piringan bulan mencapai 1.006 detik busur.

Bayang-bayang bulan yang jatuh ke permukaan bumi memiliki dua bagian, yaitu bayangan inti (umbra) dan bayangan tambahan (penumbra). Penduduk bumi yang dilintasi wilayah umbra tidak akan melihat matahari karena seluruh sumber cahayanya ditutupi bulan. Adapun jika berada di daerah yang dilalui penumbra, mereka masih dapat melihat sebagian sinar matahari.

Dalam GMC, ujung umbra atau bayang-bayang bulan tidak mencapai permukaan bumi. Hanya perpanjangan umbra (antumbra atau antiumbra) saja yang sampai ke bumi. Daerah yang dilalui antumbra itulah yang akan melihat matahari seperti cincin bercahaya di langit.

Lintasan gerhana


Jalur lintasan GMC kali ini bermula di Samudra Atlantik di sebelah barat daya Afrika pada pukul 06.06 UT (universal time) atau 13.06 WIB. Selanjutnya, GMC akan terlihat menelusuri bagian selatan Samudra Hindia, daratan Sumatera bagian selatan, Jawa bagian barat laut, Kalimantan Barat bagian selatan, Kalimantan Tengah bagian utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah bagian utara, dan berakhir di Perairan Mindanao, Filipina, pada pukul 16.52.

Jalur gerhana ini terentang sepanjang 14.500 km. Waktu total gerhana yaitu sejak bayang-bayang penumbra bulan mencapai permukaan bumi hingga bayang-bayang penumbra meninggalkan permukaan bumi, 3 jam 46 menit.

Lama puncak GMC atau saat cincin matahari terlihat sempurna hanya 7 menit 54 detik yang terjadi pada pukul 14.58. Kondisi ini hanya dapat diamati di Samudra Hindia di barat daya Sumatera.

Lebar jalur bayang-bayang antumbra bulan pada saat puncak gerhana adalah 280,3 km atau sekitar 0,9 persen permukaan bumi. Inilah yang membuat tidak semua daerah dapat menyaksikan GMC. Bahkan, lama fase cincin di setiap daerah yang dilewati antumbra juga berbeda-beda.

Daerah yang hanya dilalui penumbra atau bayangan tambahan bulan akan menyaksikan gerhana matahari sebagian (GMS). Hampir seluruh wilayah Indonesia dapat menyaksikan gerhana model ini, kecuali Papua akibat saat gerhana berlangsung, matahari sudah tenggelam.
GMS juga dapat diamati di sejumlah negara, seperti negara-negara di bagian selatan Afrika, Madagaskar, India bagian tenggara, Australia kecuali Tasmania, serta negara-negara Asia Tenggara.

Wilayah di Indonesia bagian tengah dan timur dipastikan tidak akan bisa mengamati GMC kali ini secara penuh. Awal gerhana yang terjadi menjelang senja membuat beberapa daerah tidak bisa menikmati puncak gerhana, bahkan akhir gerhana. Namun uniknya, mengamati gerhana pada waktu senja tentu mengasyikkan.

Tujuh tahun lagi

Meskipun gerhana matahari selalu terjadi setiap tahun di bumi, panjangnya jeda waktu antara gerhana yang satu dan berikutnya membuat GMC kali ini terasa unik sehingga sayang untuk dilewatkan. Pada GMT 22 Juli 2009, Indonesia, khususnya di bagian utara, hanya akan dapat mengamati fase GMS. Demikian pula pada GMC 15 Januari 2010, wilayah Indonesia bagian barat juga hanya akan dilewati fase GMS.

Wilayah Indonesia baru akan dapat mengamati GMT pada 9 Maret 2016 yang terjadi di sekitar Palembang, Bangka, Sulteng, dan Halmahera. Jadi, masyarakat Indonesia baru akan melihat gerhana matahari secara penuh pada tujuh tahun lagi.

Cara aman mengamati

Satu hal yang harus diperhatikan saat mengamati matahari, baik ketika gerhana maupun tidak gerhana, yaitu jangan melihat matahari secara langsung. Aturan ini berlaku baik ketika mengamati matahari dengan mata telanjang maupun menggunakan alat optik, seperti teleskop atau binokuler.

Untuk melihat matahari harus menggunakan alat penapis cahaya yang mampu mengurangi intensitas sinar matahari yang kuat agar tidak merusak retina mata. Sinar matahari dapat menimbulkan kebutaan temporer hingga permanen.

Namun, kebutaan yang terjadi tidak seketika setelah melihat matahari, tetapi perlahan-lahan yang ditandai dengan berkurangnya ketajaman pandangan.



Cara paling mudah dan praktis mengamati matahari adalah dengan menggunakan kacamata yang didesain khusus dan dilengkapi filter yang mampu mengurangi intensitas sinar matahari. Kacamata model ini banyak dijual di toko peralatan astronomi maupun di internet.

Namun, penggunaan kacamata ini harus memerhatikan kualitas filter yang digunakan. Filter yang berkualitas rendah membuat pengamatan matahari hanya dapat dilakukan beberapa detik yang harus diselingi jeda untuk mengistirahatkan mata selama beberapa menit. Untuk itu, perlu ditanyakan kepada penjual kacamata gerhana ini kualitas filter dan durasi aman mengamati matahari.

Jangan melihat matahari dengan menggunakan kacamata hitam biasa. Kacamata hitam umumnya didesain hanya untuk mengurangi silau, bukan untuk mengurangi intensitas cahaya matahari yang kuat.

Bagi yang ingin mengamati matahari dengan teleskop atau binokuler, jangan lupa untuk melapisi lensa yang langsung menghadap ke matahari dengan filter matahari. Filter ini juga tersedia di sejumlah toko peralatan astronomi.

Jika tidak, pengguna teleskop atau binokuler dapat mengamati citra gerhana dengan melihat proyeksinya. Cara ini dilakukan dengan mengarahkan lensa obyektif teleskop ke matahari dan mengarahkan bayangan yang muncul dari lensa okulernya pada sebuah kertas. Citra gerhana pada kertas itulah yang diamati, bukan melihat matahari melalui lensa okuler teleskop.



Cara lain yang agak sedikit membutuhkan usaha adalah dengan membuat kamera lubang jarum atau pinhole. Kamera dapat dibuat dengan menggunakan kardus yang diberi lubang yang dilapisi kertas aluminium untuk mengarahkan sinar matahari. Pada bagian yang berseberangan dengan sisi kardus yang dilubangi, tempatkan kertas putih untuk memproyeksikan sinar matahari. Citra pada kertas itu yang dapat diamati.

Setelah peralatan untuk mengamati matahari siap, langkah selanjutnya adalah memilih lokasi pengamatan. Pilih lokasi yang memiliki horizon yang luas. Puncak gedung tinggi, gunung, dan pantai merupakan salah satu pilihan terbaik.

Namun karena gerhana terjadi sore hari, bahkan di beberapa daerah di Indonesia terjadi menjelang senja, harus dipilih lokasi yang memiliki pandangan bebas ke arah barat. Hindari adanya gedung, pohon, atau obyek lain yang menghalangi pandangan ke arah matahari.

Kendala utama saat mengamati matahari adalah cuaca. Saat ini, hampir seluruh wilayah Indonesia sedang memasuki puncak musim hujan hingga Februari nanti. Karena itu, awan tipis, apalagi mendung, menjadi ancaman utama dalam menikmati fenomena alam ini.

Oleh:
CLAUDIA KARTIKA PANUTAN/XG/O6

Monday, September 14, 2009

Global Warming

Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.




Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.



Penyebab pemanasan global




1. Efek rumah kaca


Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F)dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.




2. Efek umpan balik

Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.




3. Variasi Matahari

Variasi Matahari adalah perubahan jumlah energi radiasi yang dipancarkan oleh Matahari. Terdapat beberapa komponen periodik yang mempengaruhi variasi ini, yang terutama adalah siklus matahari 11-tahunan (atau siklus bintik hitam matahari), selain fluktuasi-fluktuasi lainnya yang tidak periodik.




Dampak pemanasan global

1. Iklim Mulai Tidak Stabil

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.




2. Peningkatan Permukaan Laut


Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.




3. Suhu Global Cenderung Meningkat


Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.


4. Gangguan Ekologis

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini.




Pengendalian pemanasan global

1. Menghilangkan karbon

Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi.


2. Persetujuan internasional

sumber :

wikipedia

-Erika P. (XG/08)-

Saturday, September 12, 2009

Ice Storm


An ice storm is a type of winter storm characterized by freezing rain, also known as a glaze event or in some parts of the United States as a silver thaw. The U.S. National Weather Service defines an ice storm as a storm which results in the accumulation of at least 0.25-inch (0.64 cm) of ice on exposed surfaces. From 1982 to 1994, ice storms were more common than blizzards and averaged 16 per year.


Formation

A graph showing the formation of different kinds of precipitate as a function of height and temperature.
Ice storms occur when a layer of warm air is between two layers of cold air. Frozen
precipitation melts while falling into the warm air layer, and then proceeds to refreeze in the cold layer above the ground. If the precipitate is partially melted, it will land on the ground as sleet. However, if the warm layer completely melts the precipitate, becoming rain, the liquid droplets will continue to fall, and pass through a thin layer of cold air just above the surface. This thin layer of air then cools the rain to a temperature below freezing (0 °C). However, the drops themselves do not freeze, a phenomenon called supercooling (or forming "supercooled drops"). When the supercooled drops strike ground below 0 °C or anything else below 0 °C (power lines, tree branches, air craft), they instantly freeze, forming a thin film of ice, hence freezing rain.
While meteorologists can predict when and where an ice storm will occur, some storms still occur with little or no warning.
[5] Most ice storms are thought to form primarily in the north-eastern US, but damaging storms have occurred farther south. An ice storm in February 1994 resulted in tremendous ice accumulation as far south as Mississippi, and caused reported damage in nine states. More timber was damaged than that caused by Hurricane Camille. An ice storm in eastern Washington in November 1996 directly followed heavy snowfall. The combined weight of the snow and 25 millimetres (0.98 in) to 37 millimetres (1.5 in) of ice caused considerable widespread damage. This was considered to be the most severe ice storm in the Spokane area since 1940.

Effects

Wires sagging after an ice storm. Besides disrupting transportation, ice storms can destroy utilities by snapping power lines and power poles.
The freezing rain from an ice storm covers everything with heavy, smooth
glaze ice. Ice-covered roads become slippery and hazardous, as the ice causes vehicles to skid out of control, which can cause devastating car crashes as well as pile-ups. Pedestrians are severely affected as sidewalks become slippery, causing people to slip and fall, and outside stairs can become an extreme injury hazard.
In addition to hazardous driving or walking conditions, branches or even whole trees may break from the weight of ice. Falling branches can block roads, tear down power and telephone lines, and cause other damage. Even without falling trees and tree branches, the weight of the ice itself can easily snap power lines and also break and bring down power/utility poles; even steel frame
electricity pylons have been sent crashing to the ground by the weight of the ice. This can leave people without power for anywhere from several days to a month. According to most meteorologists, just one quarter of an inch of ice accumulation can add about 500 pounds of weight per line span. Damage from ice storms is highly capable of shutting down entire metropolitan areas.
Notable ice storms
The
North American ice storm of 1998 occurred during January 5–9, 1998. It was one of the most damaging and costly ice storms in North American history. The storm caused massive power failures in several large cities on the East Coast of the United States. The most affected area was extreme eastern Ontario and southwestern Quebec in Canada, where over 3 million people were without power for up to a month and a half. Whole trees snapped and electrical pylons were completely flattened under the weight of the accumulated ice.
The
Northeastern United States was impacted by a major ice storm on December 11–12, 2008, which left about 1.25 million homes and businesses without power. Areas impacted with 3/4" to 1" of ice accumulation included eastern New York in the Albany area, central and western Massachusetts, southern New Hampshire, coastal and south-central Maine, Pennsylvania in the Pocono Mountains region, northwestern Connecticut, and southern Vermont.
In late
January, 2009, ice storms covered several U.S. states, including Arkansas and Kentucky. Most areas affected saw over 2" of ice accumulation, and between 1"–5" of snow on top of the ice. This ice storm left well over 2 million people without power at its peak and killed 55 people, 24 in Kentucky.Rural Water Associations in Arkansas and Kentucky activated emergency response plans to deal with power loss to small water utilities across their states. Neighboring state Rural Water Associations, including experienced emergency responders from Louisiana and Florida, loaned equipment and manpower to assist the hardest-hit areas.
Gallery


Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Ice_storm



Natasha Winona Sulistio

XG
23

Constellation




The constellation Orion is one of the most recognized in the sky. The name is associated both with a set of stars in the sky, and a bounded region of the sky, marked in yellow.

In modern astronomy, constellation refers to an area of the celestial sphere, defined by exact boundaries. The term "constellation" can also be used loosely to refer to just the more prominent visible stars that seem to form a pattern in that area.

 

Human perception versus reality

Constellations are normally the product of human perception rather than astronomical realities. The stars in a constellation or asterism rarely have any astrophysical relationship to each other; they just happen to appear close together in the sky as viewed from Earth and typically lie many light years apart in space. However, there are some exceptions. The famous star pattern known as the Big Dipper in North America or the Plough in the UK is almost entirely created by stars that are genuinely close together in astronomical terms; they are known as the Ursa Major moving club.

The grouping of stars into constellations is essentially arbitary, as different cultures have seen different patterns in the sky, although a few of the more obvious ones tend to recur frequently, e.g., Orion and Scorpius.

 

Official constellations

The 88 official constellations defined by the IAU (International Astronomical Union) are mostly based upon those of the ancient Greek tradition, passed down through the Middle Ages, which includes the 'signs of the zodiac,' twelve constellations through which the sun passes and which thus have had special cultural significance. The rest consist of constellations, which were defined in the early modern era by astronomers who studied the southern hermisphere's skies, which were invisible to the Greeks.

 

Boundaries

The constellation boundaries now used by the International Astronomical Union were drawn up in 1930 by Eugene Deporte. He drew them along vertical and horizontal lines of right ascension  and declination. However, he did so for the epoch B1875.0, the era when Benjamin A. Gould made the proposal on which Delporte based his work. The consequence of this early date is that due to precession of the equinoxes, the borders on a modern star map (e.g., for epoch J2000) are already somewhat skewed and no longer perfectly vertical or horizontal. This skew will increase over the years and centuries to come.

A star pattern may be widely known but may not be used by the International Astronomical Union . One famous example is the asterism known as the Big Dipper in North America or the Plough in the UK; this term is not used by the IAU as the stars are considered part of the larger constellation of Ursa Major.

 

Names and star designations

All modern constellation names are Latin proper names or words, and some stars are named using the genitive, or sometimes the ablative of the constellation in which they are found. These are formed by using the usual rules of Latin grammar. Some examples include: Aries → Arietis; Taurus → Tauri; Gemini → Geminorum; Virgo → Virginis; Libra → Librae; Pisces → Piscium; Lepus → Leporis. In addition, all constellation names have a standard three-letter abbreviation assigned by the International Astronomical Union; for example, Aries becomes Ari, Pisces becomes Psc, Sagittarius becomes Sgr and Ursa Major becomes UMa .

Identification of stars within a given constellation includes use of Bayer designation such as Alpha Centauri, Flamsteed designation such as 61 cygni and variable star designations such as RR Lyrae. However, many fainter stars will just be given a catalog number designation (in each of various stars catalog) that does not incorporate the constellation name. Frequently, the abbreviated form of the constellation name is used in the star designation, e.g., Alpha Cen, 61 Cyg, RR Lyr.

 

 

Western

In the Western world, the sky of the northern hemisphere is traditionally divided into constellations based on those described by the Ancient Greeks. The first ancient Greek works which dealt with the constellations were books of star myths. The oldest of these was a poem composed by Hesiod in or around the eighth century BC, of which only fragments survive. The most complete existing works dealing with the mythical origins of the constellations are by the Hellenistic writer termed pseudo Erastosthenes and an early Roman writer styled pseudo-Hyginus.

In the 2nd century AD, the Greek astronomer Ptolemy described the constellations in great detail in his influential work the Almagest. The 48 constellations he described are still used by astronomers today.

 

Chinese

Chinese constellations are different from the Western constellations due to the independent development of ancient Chinese astronomy, although there are also similarities. One difference is that the Chinese counterpart of the 12 western zodiac constellations is the 28 "Xiu" or "mansions" (a literal translation).

 

Indian constellations

In Vedic astrology, the 12 zodiac constellations are called raasis. The twelve raasis along the ecliptic correspond directly to the twelve western star signs. These are however divided into 27 Nakshatras, or lunar houses.

 

Dark cloud constellations

In the southern hermisphere, it is possible to discern dark patches in the Milky Way. Some cultures have discerned shapes in these patches and have given names to these "dark cloud constellations." Members of the Inca civilization identified various dark areas or dark nebulae in the Milky Way as animals, and associated their appearance with the seasonal rains. Australian Aboriginal astronomy also describes dark cloud constellations, the most famous being the "emu in the sky" whose head is formed by the Coalsack.

Phenomena of Constellation

Some stars can’t be seeing by some people on certain area in this earth. For example, people in Australia can’t see Polaris, which close with North Pole. Crux or south cross star is a star at south side sky that can’t be seeing from United Kingdom. Night sky that has constellations, which we see from Indonesia absolutely different with night sky in Netherland.

 

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Constellation

http://langitselatan.com/2007/05/17/penghuni-langit-malam/

www.google.com


Nama: Monica Audina Sugiharto

XH/20      

 

Friday, September 11, 2009

Pemanasan Global

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18°C (1.33 ± 0.32°F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.


Penyebab Pemanasan Global

1. Efek rumah kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

2. Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Variasi Matahari
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.


Mengukur Pemanasan Global

Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai. Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.



Dampak Pemanasan Global
Iklim Mulai Tidak Stabil
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

1. Peningkatan Permukaan Laut
Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.


2. Suhu Global Cenderung Meningkat
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.


Pengendalian Pemanasan Global
Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.
Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.

Mari kita sebagai generasi penerus untuk berusaha menanggulangi pemanasan global.

sumber :
http://id.wikipedia.org//
dhea19.wordpress.com

Lydia Ranjani
Kelas XG
absen 17

Planet-Planet


Planet adalah benda langit yang memiliki ciri-ciri berikut:
mengorbit mengelilingi bintang atau sisa-sisa bintang;
mempunyai massa yang cukup untuk memiliki gravitasi tersendiri agar dapat mengatasi tekanan rigid body sehingga benda angkasa tersebut mempunyai bentuk kesetimbangan hidrostatik (bentuk hampir bulat);
tidak terlalu besar hingga dapat menyebabkan fusi termonuklir terhadap deuterium di intinya; dan,
telah "membersihkan lingkungan" (clearing the neighborhood; mengosongkan orbit agar tidak ditempati benda-benda angkasa berukuran cukup besar lainnya selain satelitnya sendiri) di daerah sekitar orbitnya
Berdasarkan definisi di atas, maka dalam sistem Tata Surya terdapat delapan planet. Hingga 24 Agustus 2006, sebelum Persatuan Astronomi Internasional (International Astronomical Union = IAU) mengumumkan perubahan pada definisi "planet" sehingga seperti yang tersebut di atas, terdapat sembilan planet termasuk Pluto, bahkan benda langit yang belakangan juga ditemukan sempat dianggap sebagai planet baru, seperti: Ceres, Sedna, Orcus, Xena, Quaoar, UB 313. Pluto, Ceres dan UB 313 kini berubah statusnya menjadi "planet kerdil/katai."
Planet diambil dari kata dalam bahasa Yunani Asteres Planetai yang artinya Bintang Pengelana. Dinamakan demikian karena berbeda dengan bintang biasa, Planet dari waktu ke waktu terlihat berkelana (berpindah-pindah) dari rasi bintang yang satu ke rasi bintang yang lain. Perpindahan ini (pada masa sekarang) dapat dipahami karena planet beredar mengelilingi matahari. Namun pada zaman Yunani Kuno yang belum mengenal konsep heliosentris, planet dianggap sebagai representasi dewa di langit. Pada saat itu yang dimaksud dengan planet adalah tujuh benda langit: Matahari, Bulan, Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus. Astronomi modern menghapus Matahari dan Bulan dari daftar karena tidak sesuai definisi yang berlaku sekarang.


Sejarah Planet




Sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, pengertian istilah “planet” berubah dari “sesuatu” yang bergerak melintasi langit (relatif terhadap latar belakang bintang-bintang yang “tetap”), menjadi benda yang bergerak mengelilingi Bumi. Ketika model heliosentrik mulai mendominasi pada abad ke-16, planet mulai diterima sebagai “sesuatu” yang mengorbit Matahari, dan Bumi hanyalah sebuah planet. Hingga pertengahan abad ke-19, semua obyek apa pun yang ditemukan mengitari Matahari didaftarkan sebagai planet, dan jumlah “planet” menjadi bertambah dengan cepat di penghujung abad itu.
Selama 1800-an, astronom mulai menyadari bahwa banyak penemuan terbaru tidak mirip dengan planet-planet tradisional. Obyek-obyek seperti Ceres, Pallas dan Vesta, yang telah diklasifikasikan sebagai planet hingga hampir setengah abad, kemudian diklasifikan dengan nama baru "asteroid". Pada titik ini, ketiadaan definisi formal membuat "planet" dipahami sebagai benda 'besar' yang mengorbit Matahari. Tidak ada keperluan untuk menetapkan batas-batas definisi karena ukuran antara asteroid dan planet begitu jauh berbeda, dan banjir penemuan baru tampaknya telah berakhir.
Namun pada abad ke-20, Pluto ditemukan. Setelah pengamatan-pengamatan awal mengarahkan pada dugaan bahwa Pluto berukuran lebih besar dari Bumi, IAU (yang baru saja dibentuk) menerima obyek tersebut sebagai planet. Pemantauan lebih jauh menemukan bahwa obyek tersebut ternyata jauh lebih kecil dari dugaan semula, tetapi karena masih lebih besar daripada semua asteroid yang diketahui, dan tampaknya tidak eksis dalam populasi yang besar, IAU tetap mempertahankan statusnya selama kira-kira 70 tahun.
Pada 1990-an dan awal 2000-an, terjadi banjir penemuan obyek-obyek sejenis Pluto di daerah yang relatif sama. Seperti Ceres dan asteroid-asteroid pada masa sebelumnya, Pluto ditemukan hanya sebagai benda kecil dalam sebuah populasi yang berjumlah ribuan. Semakin banyak astronom yang meminta agar Pluto didefinisi ulang sebagai sebuah planet seiring bertambahnya penemuan obyek-obyek sejenis. Penemuan Eris, sebuah obyek yang lebih masif daripada Pluto, dipublikasikan secara luas sebagai planet kesepuluh, membuat hal ini semakin mengemuka. Akhirnya pada 24 Agustus 2006, berdasarkan pemungutan suara, IAU membuat definisi planet. Jumlah planet dalam Tata Surya berkurang menjadi 8 benda besar yang berhasil “membersihkan lingkungannya” (Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus), dan sebuah kelas baru diciptakan, yaitu planet katai, yang pada awalnya terdiri dari tiga obyek, Ceres, Pluto dan Eris.
Sejarah nama-nama planet
Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi (Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia ini memiliki nama sendiri untuk masing-masing planet (lihat tabel nama planet di bawah). Pada abad ke-6 SM, bangsa Yunani memberi nama Stilbon (cemerlang) untuk Planet Merkurius, Pyoroeis (berapi) untuk Mars, Phaethon (berkilau) untuk Jupiter, Phainon (Bersinar) untuk Saturnus. Khusus planet Venus memiliki dua nama yaitu Hesperos (bintang sore) dan Phosphoros (pembawa cahaya). Hal ini terjadi karena dahulu planet Venus yang muncul di pagi dan di sore hari dianggap sebagai dua objek yang berbeda.
Pada abad ke-4 SM, Aristoteles memperkenalkan nama-nama dewa dalam mitologi untuk planet-planet ini. Hermes menjadi nama untuk Merkurius, Ares untuk Mars, Zeus untuk Jupiter, Kronos untuk Saturnus dan Aphrodite untuk Venus.
Pada masa selanjutnya di mana kebudayaan Romawi menjadi lebih berjaya dibanding Yunani, semua nama planet dialihkan menjadi nama-nama dewa mereka. Kebetulan dewa-dewa dalam mitologi Yunani mempunyai padanan dalam mitologi Romawi sehingga planet-planet tersebut dinamai dengan nama yang kita kenal sekarang.
Hingga masa sekarang, tradisi penamaan planet menggunakan nama dewa dalam mitologi Romawi masih berlanjut. Namun demikian ketika planet ke-7 ditemukan, planet ini diberi nama Uranus yang merupakan nama dewa Yunani. Dinamakan Uranus karena Uranus adalah ayah dari Kronos (Saturnus). Mitologi Romawi sendiri tidak memiliki padanan untuk dewa Uranus. Planet ke-8 diberi nama Neptunus, dewa laut dalam mitologi Romawi.


sumber
http://id.wikipedia.org

Yohana Vira Pramudita
XG-31

Eartquake

An earthquake (also known as a tremor or temblor) is the result of a sudden release of energy in the Earth's crust that creates seismic waves. Earthquakes are recorded with a seismometer, also known as a seismograph. The moment magnitude of an earthquake is conventionally reported, or the related and mostly obsolete Richter magnitude, with magnitude 3 or lower earthquakes being mostly imperceptible and magnitude 7 causing serious damage over large areas. Intensity of shaking is measured on the modified Mercalli scale.

At the Earth's surface, earthquakes manifest themselves by shaking and sometimes displacing the ground. When a large earthquake epicenter is located offshore, the seabed sometimes suffers sufficient displacement to cause a tsunami. The shaking in earthquakes can also trigger landslides and occasionally volcanic activity.

In its most generic sense, the word earthquake is used to describe any seismic event — whether a natural phenomenon or an event caused by humans — that generates seismic waves. Earthquakes are caused mostly by rupture of geological faults, but also by volcanic activity, landslides, mine blasts, and nuclear experiments. An earthquake's point of initial rupture is called its focus or hypocenter. The term epicenter refers to the point at ground level directly above the hypocenter

Naturally occurring earthquakes

Tectonic earthquakes will occur anywhere within the earth where there is sufficient stored elastic strain energy to drive fracture propagation along a fault plane. In the case of transform or convergent type plate boundaries, which form the largest fault surfaces on earth, they will move past each other smoothly and aseismically only if there are no irregularities or asperities along the boundary that increase the frictional resistance. Most boundaries do have such asperities and this leads to a form of stick-slip behaviour. Once the boundary has locked, continued relative motion between the plates leads to increasing stress and therefore, stored strain energy in the volume around the fault surface. This continues until the stress has risen sufficiently to break through the asperity, suddenly allowing sliding over the locked portion of the fault, releasing the stored energy. This energy is released as a combination of radiated elastic strain seismic waves, frictional heating of the fault surface, and cracking of the rock, thus causing an earthquake. This process of gradual build-up of strain and stress punctuated by occasional sudden earthquake failure is referred to as the Elastic-rebound theory. It is estimated that only 10 percent or less of an earthquake's total energy is radiated as seismic energy. Most of the earthquake's energy is used to power the earthquake fracture growth or is converted into heat generated by friction. Therefore, earthquakes lower the Earth's available elastic potential energy and raise its temperature, though these changes are negligible compared to the conductive and convective flow of heat out from the Earth's deep interior.

Earthquake fault types

There are three main types of fault that may cause an earthquake: normal, reverse (thrust) and strike-slip. Normal and reverse faulting are examples of dip-slip, where the displacement along the fault is in the direction of dip and movement on them involves a vertical component. Normal faults occur mainly in areas where the crust is being extended such as a divergent boundary. Reverse faults occur in areas where the crust is being shortened such as at a convergent boundary. Strike-slip faults are steep structures where the two sides of the fault slip horizontally past each other ; transform boundaries are a particular type of strike-slip fault. Many earthquakes are caused by movement on faults that have components of both dip-slip and strike-slip; this is known as oblique slip.

Earthquakes away from plate boundaries

Where plate boundaries occur within continental lithosphere, deformation is spread out a over a much larger area than the plate boundary itself. In the case of the San Andreas fault continental transform, many earthquakes occur away from the plate boundary and are related to strains developed within the broader zone of deformation caused by major irregularities in the fault trace (e.g. the “Big bend” region). The Northridge earthquake was associated with movement on a blind thrust within such a zone. Another example is the strongly oblique convergent plate boundary between the Arabian and Eurasian plates where it runs through the northwestern part of the Zagros mountains. The deformation associated with this plate boundary is partitioned into nearly pure thrust sense movements perpendicular to the boundary over a wide zone to the southwest and nearly pure strike-slip motion along the Main Recent Fault close to the actual plate boundary itself. This is demonstrated by earthquake focal mechanisms.

All tectonic plates have internal stress fields caused by their interactions with neighbouring plates and sedimentary loading or unloading (e.g. deglaciation). These stresses may be sufficient to cause failure along existing fault planes, giving rise to intraplate earthquakes.

Shallow-focus and deep-focus earthquakes

The majority of tectonic earthquakes originate at the ring of fire in depths not exceeding tens of kilometers. Earthquakes occurring at a depth of less than 70 km are classified as 'shallow-focus' earthquakes, while those with a focal-depth between 70 and 300 km are commonly termed 'mid-focus' or 'intermediate-depth' earthquakes. In subduction zones, where older and colder oceanic crust descends beneath another tectonic plate, deep-focus earthquakes may occur at much greater depths (ranging from 300 up to 700 kilometers).These seismically active areas of subduction are known as Wadati-Benioff zones. Deep-focus earthquakes occur at a depth at which the subducted lithosphere should no longer be brittle, due to the high temperature and pressure. A possible mechanism for the generation of deep-focus earthquakes is faulting caused by olivine undergoing a phase transition into a spinel structure.

Earthquakes and volcanic activity

Earthquakes often occur in volcanic regions and are caused there, both by tectonic faults and the movement of magma in volcanoes. Such earthquakes can serve as an early warning of volcanic eruptions, like during the Mount St. Helens eruption of 1980.[6] Earthquake swarms serve as markers for the location of the flowing magma throughout the volcanoes. In the United States, these are then recorded by seismometers and tiltimeters (a device which measures the ground slope) and used as sensors to predict imminent or upcoming eruptions.

Earthquake clusters

Most earthquakes form part of a sequence, related to each other in terms of location and time. Most earthquake clusters consist of small tremors which cause little to no damage, but there is a theory that earthquakes repeat themselves.

Aftershocks

An aftershock is an earthquake that occurs after a previous earthquake, the mainshock. An aftershock is in the same region of the main shock but always of a smaller magnitude. If an aftershock is larger than the main shock, the aftershock is redesignated as the main shock and the original main shock is redesignated as a foreshock. Aftershocks are formed as the crust around the displaced fault plane adjusts to the effects of the main shock.

Earthquake swarms

February 2008 earthquake swarm near Mexicali

Earthquake swarms are sequences of earthquakes striking in a specific area within a short period of time. They are different from earthquakes followed by a series of aftershocks by the fact that no single earthquake in the sequence is obviously the main shock, therefore none have notable higher magnitudes than the other. An example of an earthquake swarm is the 2004 activity at Yellowstone National Park.[10]

Earthquake storms

Sometimes a series of earthquakes occur in a sort of earthquake storm, where the earthquakes strike a fault in clusters, each triggered by the shaking or stress redistribution of the previous earthquakes. Similar to aftershocks but on adjacent segments of fault, these storms occur over the course of years, and with some of the later earthquakes as damaging as the early ones. Such a pattern was observed in the sequence of about a dozen earthquakes that struck the North Anatolian Fault in Turkey in the 20th century and has been inferred for older anomalous clusters of large earthquakes in the Middle East.[11][12]

Size and frequency of occurrence

Minor earthquakes occur nearly constantly around the world in places like California and Alaska in the U.S., as well as in Guatemala. Chile, Peru, Indonesia, Iran, Pakistan, the Azores in Portugal, Turkey, New Zealand, Greece, Italy, and Japan, but earthquakes can occur almost anywhere, including New York City, London, and Australia. Larger earthquakes occur less frequently, the relationship being exponential; for example, roughly ten times as many earthquakes larger than magnitude 4 occur in a particular time period than earthquakes larger than magnitude 5. In the (low seismicity) United Kingdom, for example, it has been calculated that the average recurrences are: an earthquake of 3.7 - 4.6 every year, an earthquake of 4.7 - 5.5 every 10 years, and an earthquake of 5.6 or larger every 100 years. This is an example of the Gutenberg-Richter law.

The number of seismic stations has increased from about 350 in 1931 to many thousands today. As a result, many more earthquakes are reported than in the past, but this is because of the vast improvement in instrumentation, rather than an increase in the number of earthquakes. The USGS estimates that, since 1900, there have been an average of 18 major earthquakes (magnitude 7.0-7.9) and one great earthquake (magnitude 8.0 or greater) per year, and that this average has been relatively stable. In recent years, the number of major earthquakes per year has decreased, although this is thought likely to be a statistical fluctuation rather than a systematic trend. More detailed statistics on the size and frequency of earthquakes is available from the USGS.

Most of the world's earthquakes (90%, and 81% of the largest) take place in the 40,000-km-long, horseshoe-shaped zone called the circum-Pacific seismic belt, also known as the Pacific Ring of Fire, which for the most part bounds the Pacific Plate.[17][18] Massive earthquakes tend to occur along other plate boundaries, too, such as along the Himalayan Mountains.

With the rapid growth of mega-cities such as Mexico City, Tokyo or Tehran, in areas of high seismic risk, some seismologists are warning that a single quake may claim the lives of up to 3 million people.

Induced seismicity

While most earthquakes are caused by movement of the Earth's tectonic plates, human activity can also produce earthquakes. Four main reasons contribute to this phenomenon: constructing large dams and buildings, drilling and injecting liquid into wells, and by coal mining and oil drilling.[21] Perhaps the best known example is the 2008 Sichuan earthquake in China's Sichuan Province in May; this tremor resulted in 69,227 fatalities and is the 19th deadliest earthquake of all time. The Zipingpu Dam is believed to have fluctuated the pressure of the fault 1,650 feet (503 m) away; this pressure probably increased the power of the earthquake and accelerated the rate of movement for the fault. The greatest earthquake in Australia's history was also induced by humanity, through coal mining. The city of Newcastle was built over a large sector of coal mining areas. The earthquake was spawned from a fault which reactivated due to the millions of tonnes of rock removed in the mining process.

How to measure and locate an earthquake

Earthquakes can be recorded by seismometers up to great distances, because seismic waves travel through the whole Earth's interior. The absolute magnitude of a quake is conventionally reported by numbers on the Moment magnitude scale (formerly Richter scale, magnitude 7 causing serious damage over large areas), whereas the felt magnitude is reported using the modified Mercalli scale (intensity II-XII).

Every tremor produces different types of seismic waves which travel through rock with different velocities: the longitudinal P-waves (shock- or pressure waves), the transverse S-waves (both body waves) and several surface waves (Rayleigh and Love waves). The propagation velocity of the seismic waves ranges from approx. 3 km/s up to 13 km/s, depending on the density and elasticity of the medium. In the Earths interior the shock- or P waves travel much more faster than the S waves (approx. relation 1.7 : 1). The differences in travel time from the epicentre to the observatory are a measure of the distance and can be used to image both sources of quakes and structures within the Earth. Also the depth of the hypocenter can be computed roughly.

In solid rock P-waves travel at about 6 to 7 km per second; the velocity increases within the deep mantle to ~13 km/s. The velocity of S-waves ranges from 2-3 km/s in light sediments and 4-5 km/s in the Earths crust up to 7 km/s in the deep mantle. As a consequence, the first waves of a distant earth quake arrive at an observatory via the Earths mantle.

Rule of thumb: On the average, the kilometer distance to the earthquake is the number of seconds between the P and S wave times 8 . Slight deviations are caused by inhomogenities of subsurface structure. By such analyses of seismograms the Earth's core was located 1913 by Beno Gutenberg.

Effects/impacts of earthquakes

1755 copper engraving depicting Lisbon in ruins and in flames after the 1755 Lisbon earthquake. A tsunami overwhelms the ships in the harbor.

There are many effects of earthquakes including, but not limited to the following:

Shaking and ground rupture

Shaking and ground rupture are the main effects created by earthquakes, principally resulting in more or less severe damage to buildings or other rigid structures. The severity of the local effects depends on the complex combination of the earthquake magnitude, the distance from epicenter, and the local geological and geomorphological conditions, which may amplify or reduce wave propagation. The ground-shaking is measured by ground acceleration.

Specific local geological, geomorphological, and geostructural features can induce high levels of shaking on the ground surface even from low-intensity earthquakes. This effect is called site or local amplification. It is principally due to the transfer of the seismic motion from hard deep soils to soft superficial soils and to effects of seismic energy focalization owing to typical geometrical setting of the deposits.

Ground rupture is a visible breaking and displacement of the Earth's surface along the trace of the fault, which may be of the order of several metres in the case of major earthquakes. Ground rupture is a major risk for large engineering structures such as dams, bridges and nuclear power stations and requires careful mapping of existing faults to identify any likely to break the ground surface within the life of the structure.

Landslides and avalanches

Landslides are a major geologic hazard because they can happen at any place in the world, much like earthquakes. Severe storms, earthquakes, volcanic activity, coastal wave attack, and wildfires can all produce slope instability. Landslide danger may be possible even though emergency personnel are attempting rescue.

Fires

Following an earthquake, fires can be generated by break of the electrical power or gas lines. In the event of water mains rupturing and a loss of pressure, it may also become difficult to stop the spread of a fire once it has started. For example, the deaths in the 1906 San Francisco earthquake were caused more by the fires than by the earthquake itself.[27]

Soil liquefaction

Soil liquefaction occurs when, because of the shaking, water-saturated granular material (such as sand) temporarily loses its strength and transforms from a solid to a liquid. Soil liquefaction may cause rigid structures, as buildings or bridges, to tilt or sink into the liquefied deposits. This can be a devastating effect of earthquakes. For example, in the 1964 Alaska earthquake, many buildings were sunk into the ground by soil liquefaction, eventually collapsing upon themselves.

Tsunami

The tsunami of the 2004 Indian Ocean earthquake

Tsunamis are long-wavelength, long-period sea waves produced by an sudden or abrupt movement of large volumes of water. In the open ocean, the distance between wave crests can surpass 100 kilometers, and the wave periods can vary from five minutes to one hour. Such tsunamis travel 600-800 kilometers per hour, depending on water depth. Large waves produced by an earthquake or a submarine landslide can overrun nearby coastal areas in a matter of minutes. Tsunamis can also travel thousands of kilometers across open ocean and wreak destruction on far shores hours after the earthquake that generated them.

Ordinarily, subduction earthquakes under magnitude 7.5 on the Richter scale do not cause tsunamis, although some instances of this have been recorded. Most destructive tsunamis are caused by earthquakes of magnitude 7.5 or more.

Floods

A flood is an overflow of any amount of water that reaches land. Floods usually occur because of the volume of water within a body of water, such as a river or lake, exceeds the total capacity of the formation, and as a result some of the water flows or sits outside of the normal perimeter of the body. However, floods may be secondary effects of earthquakes, if dams are damaged. Earthquakes may cause landslips to dam rivers, which then collapse and cause floods.

The terrain below the Sarez Lake in Tajikistan is in danger of catastrophic flood if the landslide dam formed by the earthquake, known as the Usoi Dam, were to fail during a future earthquake. Impact projections suggest the flood could affect roughly 5 million people.

Human impacts

Earthquakes may result in disease, lack of basic necessities, loss of life, higher insurance premiums, general property damage, road and bridge damage, and collapse of buildings or destabilization of the base of buildings; this may lead to collapse in future earthquakes. Earthquakes can also precede volcanic eruptions, which cause further problems; for example, substantial crop damage, like in the "Year Without a Summer" (1816).

Preparation

In order to determine the likelihood for future seismic activity, geologists and other scientists examine the rock of an area to determine if the rock appears to be "strained". Studying the faults of an area to study the buildup time it takes for the fault to build up stress sufficient for an earthquake also serves as an effective predicition technique. Measurements of the amount of pressure which collocates on the fault line each year, time passed since the last major temblor, and the energy and power of the last earthquake are made. Together the facts allow scientists to determine how much pressure it takes for the fault to generate an earthquake. Though this method is useful, it has only been implemented on California's San Andreas Fault.

Today, there are ways to protect and prepare possible sites of earthquakes from severe damage, through the following processes: earthquake engineering, earthquake preparedness, household seismic safety, seismic retrofit (including special fasteners, materials, and techniques), seismic hazard, mitigation of seismic motion, and earthquake prediction.

History

An image from a 1557 book

Pre-Middle Ages

From the lifetime of Greek Anaxagoras to the 14th century, earthquakes were attributed to "air (vapors) in the cavities of the Earth". Tales of Milet, who lived from 625-547 (BCE) was the only documented person who believed that earthquakes were caused by tension between the earth and water. Other theories existed, including Greek philosopher Anaxamines of Milet's (585-526 BCE) beliefs that short incline episodes of dryness and wetness caused seismic activity. Greek philosopher Democritus (460-371BCE) blamed water in general for earthquakes. Pliny the Elder called earthquakes "underground thunderstorms".

Earthquakes in culture

Mythology and religion

In Norse mythology, earthquakes were explained as the violent struggling of the god Loki. When Loki, god of mischief and strife, murdered Baldr, god of beauty and light, he was punished by being bound in a cave with a poisonous serpent placed above his head dripping venom. Loki's wife Sigyn stood by him with a bowl to catch the poison, but whenever she had to empty the bowl the poison would drip on Loki's face, forcing him to jerk his head away and thrash against his bonds, causing the earth to tremble.

In Greek mythology, Poseidon was the cause and god of earthquakes. When he was in a bad mood, he would strike the ground with a trident, causing this and other calamities. He also used earthquakes to punish and inflict fear upon people as revenge.

In Japanese mythology, Namazu (鯰) is a giant catfish who causes earthquakes. Namazu lives in the mud beneath the earth, and is guarded by the god Kashima who restrains the fish with a stone. When Kashima lets his guard fall, Namazu thrashes about, causing violent earthquakes.

Popular culture

In modern popular culture, the portrayal of earthquakes is shaped by the memory of great cities laid waste, such as Kobe in 1995 or San Francisco in 1906. Fictional earthquakes tend to strike suddenly and without warning. For this reason, stories about earthquakes generally begin with the disaster and focus on its immediate aftermath, as in Short Walk to Daylight (1972), The Ragged Edge (1968) or Aftershock: Earthquake in New York (1998).[38] A notable example is Heinrich von Kleist's classic novella, The Earthquake in Chile, which describes the destruction of Santiago in 1647. Haruki Murakami's short fiction collection, After the Quake, depicts the consequences of the Kobe earthquake of 1995.

The most popular single earthquake in fiction is the hypothetical "Big One" expected of California's San Andreas Fault someday, as depicted in the novels Richter 10 (1996) and Goodbye California (1977) among other works. Jacob M. Appel's widely-anthologized short story, A Comparative Seismology, features a con artist who convinces an elderly woman that an apocalyptic earthquake is imminent. In Pleasure Boating in Lituya Bay, one of the stories in Jim Shepard's Like You'd Understand, Anyway, the "Big One" leads to an even more devastating tsunami.




sumber : www.google.com

http://www.netsains.org


Nama : Yohanna Bregiba Lolaninta

kelas : X-G / 32

Visitors